Terkini, Jakarta — Suasana aula Pondok Pesantren Darunnajah tampak berbeda dari biasanya. Ratusan santri duduk rapi dengan wajah penuh antusias, menyimak materi tentang literasi keuangan syariah yang disampaikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Hari itu, para santri tidak hanya belajar kitab dan ilmu agama seperti biasanya. Mereka juga diajak memahami bagaimana mengelola keuangan dengan bijak melalui program Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (SAKINAH).
Program ini merupakan bagian dari upaya OJK untuk menanamkan pemahaman tentang keuangan syariah sejak dini di lingkungan pesantren.
Melalui kegiatan ini, santri diperkenalkan dengan berbagai konsep penting seperti pengelolaan keuangan, produk keuangan syariah, hingga peluang kewirausahaan berbasis syariah.
Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK M. Ismail Riyadi mengatakan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam meningkatkan literasi keuangan syariah di tengah masyarakat.
“Santri bukan hanya generasi penerus bangsa, tetapi juga calon pemimpin di masyarakat. Dengan pemahaman keuangan syariah yang baik, mereka dapat menjadi agen perubahan yang membawa manfaat bagi umat,” ujarnya.
Bagi para santri, kegiatan ini menjadi pengalaman baru yang membuka wawasan tentang dunia keuangan.
Selama ini mereka lebih banyak mengenal konsep ekonomi dalam teori, namun melalui program SAKINAH mereka diajak memahami praktik nyata pengelolaan keuangan yang sesuai dengan prinsip Islam.
Indonesia sendiri memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Dengan jumlah penduduk muslim yang besar, literasi keuangan syariah menjadi kunci agar masyarakat mampu memanfaatkan berbagai produk dan layanan keuangan yang tersedia.
Melalui program seperti SAKINAH, OJK berharap para santri tidak hanya memahami keuangan syariah, tetapi juga mampu mengembangkan kemandirian ekonomi dan menjadi inspirasi bagi masyarakat di sekitarnya.
Di pesantren, benih literasi keuangan itu kini mulai tumbuh. Dari ruang-ruang belajar sederhana, para santri dipersiapkan bukan hanya menjadi ahli ilmu agama, tetapi juga generasi yang cakap mengelola ekonomi umat.









