24 Pemuda Mendaki Gunung Cakra Buana, Aparat Ulama Desa Cimungkal Ditegur Prabu Arya Wisesa

Gaya Hidup
24 Pemuda asal desa Cimungkal, berfoto bersama di puncak Gunung Cakra Buana. (Foto: Istimewa).

Terkini.id, Sumedang – Sebelum memulai pendakian kami berbaris sebanyak dua puluh empat orang, layaknya tentara yang akan pergi ke medan tempur. Kebetulan orang yang disepuhkan yang bersama kami adalah tentara aktip.

Titik kumpul kami sebelum berangkat adalah di Mesjid Agung, yang letaknya di desa Cimungkal, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang.

Seorang pemuda Cimungkal yang mengikuti pendakian, menceritakan semua pengalamannya selama pendakian kepada Jakarta.terkini.id sebut saja Kapten Oleng, pemuda asal desa Cimungkal itu.

Kami bersiap mengikuti komando dari seorang sahabat itu, karena kami percaya beliau adalah seorang tentara yang militan. dalam pendakian patutlah kita melakukan prilaku yang sopan dan terus selalu kita meminta perlindungan darinya.

24 Pemuda asal desa Cimungkal, mengikuti arahan sahabatnya yang disepuhkan diantara mereka, dihalaman mesjid Agung desa Cimungkal. (Foto: Istimewa).

“Ingat dalam perjalanan tak boleh kita berprilaku yang tidak baik, dan selalu kita berdoa kepada Tuhan agar selalu diberikan perlindungan, Mari perjalanan kita, kita awali dengan berbasmalah berasama,” kata Kapten Oleng menirukan apa yang dikatakan sahabatnya, saat dihubungi melalui sambungan telpon, Minggu 21 Juni 2020.

“Serentak kami pun mengikutinya bismillahirrohmanirrohim !!,” seakan-akan kami mengetuk pintu langit untuk meminta keselamatan.

Lalu kami bergegas memakai mobil bak terbuka menuju rumah Juru Kunci atau orang sunda memanggilnya kuncen yang bernama Lebe Ajat, Setelah bercengkrama sedikit dengan Kuncen barulah pendakian Gunung Cakra Buana dimulai dengan setapak demi setapak.

Perjalanan yang begitu melelahkan tapi, sungguh sangat menyenangakan kami penuh semangat melalukan pendakian, tak berasa perjalan selama enam jam pun kami lalui akhirnya sampai pada puncak Gunung Cakra Buana.

24 Pemuda asal desa Cimungkal mengawali perjalanan menuju puncak Gunung Cakra Buana. (Foto: Istimewa).

“Sekitaran jam 09:00 dari Cipasung. kami nyampai di puncak pertama kisaran jam 13:00, lanjut perjalanan ke puncak ke dua sampai sekitar jam 16:00 WIB,” Jelasnya penuh semangat kebahagiaan.

Dia pun mengutarakan, pengalamannya paling berkesan selama perjalanannya, adalah kami tidak boleh menyebutkan kata garam selama kami mendaki.
“Tidak boleh ada yang menyebut nama Garam,” tuturnya.

Setibanya di tempat petilasan Prabu Siliwangi, kami pun memasang tenda lalu kami pun melaksanakan sholat magrib berjamaah Kami diguyur hujan sampai jam enam pagi.

Pas sehabis sholat magrib dan berwirid, salah satu dari kami kesurupan dimasuki ruh Prabu Arya Wisesa, kami pun panik apa yang harus kami lakukan, lalu teman kami yang kesurupan mulai meronta dan berkata-kata.

Dia berpesan kepada kami wabil khusus kepada sahabat kami Dudu dan Deden, di berwasiat untuk aparat setempat desa Cimungkal agar bisa memperbaiki akhlak.

“Dan bilang pada aparatur desa, perbaiki lagi alim ulama yang ada di desa Cimungkal, karena sudah mulai berpecah,” tutur Kapten oleng menceritakan semua kejadian yang dialaminya.

“Ditempat itu kamipun menemukan bak tempat air, konon katanya bisa menyembuhkan orang sakit,” tambahnya.

24 orang pemuda Cimungkal pun menyempatkan untuk berjiarah kepada petilasan, tempat napak tilas Prabu Kian Santang setelah berpulang dari Mekkah.

Pendakian tesebut dilakukan pada hari Kamis 18 Juni 2020 pukul 7:00 pagi dan kembali sampai bawah pada hari Jumat 19 Juni pukul 09:00.

Konten Bersponsor

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar